Feeds:
Posts
Comments

Kematian begitu dekat dengan kita, sampai terkadang kita tidak menyadarinya. Kematian bisa datang kepada yang tua, muda, bahkan yang baru lahir sekalipun. Ketika sehat, sakit, tertidur atau terjaga. Kita sendiri, orang yang jauh atau seseorang yang dekat seperti seseorang yandaffa cropg kita sayangi.

Keponakan kelimaku, anak kedua dari kakak ketigaku, baru saja meninggalkan kami saat usianya baru 3 tahun 2 bulan, 1 November 2009, pukul 05.40 wib, karena terkena penyakit kanker hati dan paru-paru. Keponakan, anak, cucu yang sangat kami sayangi. Dia anak laki-laki yang lucu, cerdas, lincah, cepat dewasa, imut-imut, hampir tidak pernah merasakan kesakitan ketika penyakit menyerangnya.

Dua minggu sebelum sikecil wafat, gejala batuk dan sesak nafas yang muncul. Diagnosa awal adalah asma. Ternyata setelah masuk rumah sakit beberapa hari baru diketahui bahwa penyakit tumor yang pernah menyerang ginjal kirinya (nefroblastoma) 1 tahun yang lalu sudah menyebar ke hati dan paru-paru. Cairan di dalam paru-paru bereproduksi terus menerus menutupi 70% paru-paru menyebabkan sesak nafas. Ternyata selama ini hanya 30% saja yang berfungsi. Pertolongan yang diberikan adalah disedotnya cairan tersebut dari celah rongga dada. Tetapi justru menjadikan pendarahan dalam rongga dada dan perut. Secara medis sudah tidak bisa diberikan terapi apapun. Hanya tawakal dan prosedur rumah sakit yang bisa dilakukan. Kami semua sangat shock. Apalagi ketika dokter memberikan pernyataan bahwa jika cairan disedot akan menyebabkan pendarahan dalam, jika tidak disedot akan menyebabkan sesak nafas.  Benar-benar buah simalakama.

Sikecil mencapai titik kritis pukul 04.00 wib setelah shubuh. Yang menajubkan adalah dia sebelumnya melakukan sholat shubuh dengan membaca surat Al-Fatihah, surat Al-Quran yang dihafalnya. Setelah itu dia berucap kepada bunda, “Aku tidur sekarang aja Bunda”. Sesak nafas semakin sangat parah, kaki sangat dingin tapi kepala panas. Satu lagi yang membuat kami bertambah sedih yaitu busa yang keluar dari mulut mungilnya. Isak tangis tak pernah bisa kami bendung karena sangat prihatin dan kasihan melihat kondisi yang dideritanya. Saya ingat ketika bundanya menyatakan  dia ikhlas jika sikecil tidur. Mungkin karena tidak tega melihat sikecil yang kepayahan.

Waktu terus berjalan, sikecil sesak nafas semakin berat dan mengeluarkan busa dari mulutnya, yang kemudian dilakukan penyedotan busa di mulut oleh tim perawat. Mendekati pukul 05.30 mulutnya tidak mengeluarkan busa lagi, nafasnya semakin pelan dan matanya mulai berkedip seperti seseorang yang akan terlelap. Kemudian nafasnya semakin pelan sekali dan matanya mulai berkedip untuk menutup. Tepat pukul 05.40 wib sikecil berhenti bernafas dan matanya telah tertutup dipangkuan bunda tercinta.

Selamat jalan Muhammad Daffa Dhiyaulhaq…..Selamat jalan sayangku…..bermainlah di surga dengan ditemani para malaikat….. Engkau adalah bunga surga….. Jemputlah kami di sana sayang….. Kami sangat sayang padamu dan pasti akan merindukanmu……………

coretan perdana

Setetes tinta menoreh goresan tangan

melukiskan isi jiwa,

buah pikiran,

kisah kehidupan,

peristiwa tak terlupakan